Sepucuk Surat di Ketinggian 30 Ribu Kaki
Langit malam begitu tenang. Di dalam kabin pesawat yang meluncur dari Jakarta menuju Amsterdam, seorang lelaki duduk di dekat jendela. Wajahnya teduh, matanya menatap kosong ke awan di luar. Di pangkuannya, ada sebuah map cokelat yang sudah usang, penuh dengan berkas-berkas tentang mereka yang tak pernah kembali: para korban penculikan, kekerasan, dan penghilangan paksa.
Namanya Arman, seorang pembela hak asasi manusia.
Pesawat bergoyang ringan. Pramugari menawarkan teh, tapi Arman menolaknya. Ia sudah cukup gelisah tanpa perlu tambahan kafein. Di balik senyumnya yang tenang, pikirannya penuh dengan nama-nama yang menghantuinya — nama-nama yang hanya tinggal di kepala keluarga mereka, tak pernah tercatat secara resmi.
Ia tahu tugasnya berat. Ia tahu, semakin tinggi ia bicara, semakin banyak yang ingin membuatnya diam.
Lalu, dari saku jasnya, ia mengeluarkan sepucuk surat. Tulisannya rapi, dengan tinta biru yang sudah sedikit pudar.
Untuk istriku tercinta,
Jika surat ini sampai di tanganmu, mungkin aku sudah tidak bisa lagi memelukmu. Tapi percayalah, aku tidak pernah takut. Yang kutakutkan hanyalah jika suara mereka hilang tanpa pernah terdengar.
Aku tidak pergi membawa kemarahan, hanya harapan — bahwa suatu hari, kebenaran akan menang.
Jagalah anak kita. Ajarkan dia untuk tidak diam ketika yang lemah ditindas.
Salam sayang,
Arman
Ia menyelipkan surat itu kembali ke dalam map, lalu menarik napas panjang.
Tiba-tiba, ada sesuatu yang aneh. Perutnya mual, kepalanya pusing. Dunia berputar. Ia mencoba berdiri, tapi lututnya lemas. Pramugari mendekat, tapi suaranya mengambang. Penumpang lain mulai panik.
Lalu, semuanya gelap.
Beberapa tahun kemudian…
Di sebuah taman kecil yang tenang, seorang anak kecil duduk di bangku batu, ditemani ibunya. Di depannya, terpahat sebuah nama:
“Arman Wijaya – Pembela Kebenaran”
Sang ibu menggenggam tangan anaknya. “Ayahmu pergi bukan karena dia salah, tapi karena dia benar di tempat yang salah.”
Anak itu memandang langit.
“Bu, kalau aku besar nanti, aku mau seperti Ayah.”
Sang ibu tersenyum, walau air matanya jatuh tanpa suara.







0 komentar:
Posting Komentar