Perlawanan dan Penghilangan Paksa
"WIJI THUKUL"
Langit Solo malam itu tidak bicara apa-apa. Hanya angin yang terus berjalan dari gang ke gang, membawa kabar bisu. Di sebuah rumah kecil, cahaya lampu minyak menggantung di sudut dinding, menemani seorang lelaki kurus yang sedang menulis di atas kertas bekas.
Namanya Thukul. Nama yang berarti "tumbuh", dan seperti akar liar, pikirannya memang terus tumbuh—melawan ketakutan, melawan sunyi, melawan kekuasaan yang membungkam.
"Jika suara-suara dibungkam,
maka kata-kata akan menyelinap lewat tembok."
Itu yang ia tulis malam itu, sambil sesekali menatap jendela. Di luar, bayangan mobil hitam kadang-kadang lewat. Sudah biasa. Matanya tak lagi takut—hanya siap.
Di kampungnya, ia bukan siapa-siapa. Hanya tukang pelitur, kadang buruh bangunan. Tapi bagi para buruh pabrik, mahasiswa, dan rakyat yang kelelahan dihisap oleh sistem, puisi-puisinya adalah peluru. Ia tidak menulis untuk pujian, ia menulis untuk perlawanan.
"Hanya satu kata: lawan!"
Itu bukan puisi. Itu senjata.
Lalu suatu malam di bulan Mei 1998, ia hilang.
Tak ada jejak. Tak ada kabar. Hanya pintu rumah yang terbuka, dan sepucuk puisi terakhir yang tertinggal di atas meja:
Aku tidak pergi,
aku hanya tiada kabar.
Jika suatu saat kata-kata kembali,
aku ada di dalamnya.
Orang-orang mencarinya. Ibunya menangis bertahun-tahun. Anaknya tumbuh tanpa kabar ayah. Tapi puisi Thukul tetap hidup. Di poster-poster jalanan. Di suara mahasiswa. Di film, di lagu, di lorong-lorong sunyi tempat rakyat masih mencari keadilan.
Wiji Thukul hilang. Tapi suaranya—tidak.








0 komentar:
Posting Komentar