Rabu, 19 November 2025

JOAN OF ARC

 

“Api yang Tak Padam”

Angin musim semi bertiup di padang Perancis, membawa aroma tanah basah dan bunga liar. Di desa Domrémy, seorang gadis muda bernama Jeanne berdiri di antara pepohonan, menatap langit yang mulai memerah saat senja. Suara yang hanya ia bisa dengar berbisik di telinganya, suara para malaikat yang memintanya melakukan sesuatu yang luar biasa.

“Jeanne,” suara itu lembut tapi tegas, “kau harus memimpin bangsamu.”

Gadis itu menelan ludah. Bagaimana mungkin seorang gadis sepertinya—hanya seorang petani—bisa menentang raja-raja, memimpin tentara, dan menghadapi dunia yang tidak percaya padanya? Tapi hatinya tak bisa menolak. Api keyakinan membara di dalam dirinya.

Tak lama kemudian, Jeanne berdiri di hadapan Charles, Dauphin Perancis, mengenakan baju besi yang terlalu besar untuk tubuhnya yang kecil. Ia menatap mata raja muda itu dengan keberanian yang tak terduga.

“Seorang gadis kecil mengaku mendapat perintah dari Tuhan,” bisik salah seorang penasihat.

Jeanne menundukkan kepala, tapi suaranya mantap. “Tuhan memanggilku untuk mengusir Inggris dari tanah Perancis. Aku tidak akan takut.”

Di medan perang, Jeanne menunggang kuda putih, panji Perancis di genggamannya, dan pasukan mengikuti langkahnya. Dentuman senjata, teriakan prajurit, dan debu perang memenuhi udara, tapi ia tetap berjalan dengan keyakinan yang membakar semangat tentara di sekelilingnya.

Namun, kemenangan membawa bahaya. Musuh-musuhnya iri pada keberanian dan pengaruhnya. Di Rouen, Jeanne ditangkap dan dibawa ke pengadilan musuh. Mereka menuduhnya penyihir, bidat, dan semua yang bisa merendahkan seorang gadis pemberani.

Dalam dinginnya penjara, Jeanne menatap cahaya yang menembus jendela kecil. Ia berbisik kepada dirinya sendiri: “Jika Tuhan menghendaki, kematian ini hanyalah awal. Aku akan menjadi api yang tak padam, meskipun tubuhku terbakar.”

Api unggun dinyalakan. Asap dan nyala membumbung tinggi, tapi di hati Jeanne, keyakinan tetap hidup. Suara malaikat masih berbisik, dan bangsa Perancis yang ia cintai akan terus hidup, dibimbing oleh semangat seorang gadis kecil yang berani menentang dunia.

Dan meskipun tubuhnya musnah, legenda Jeanne d’Arc menjadi cahaya yang tak pernah padam.

0 komentar:

Posting Komentar

LEON TROTSKY

  Cerpen: “Bayang-Bayang Pena Trotsky” Di sebuah kamar kecil di pinggiran Mexico City tahun 1940, Leon Trotsky duduk di depan meja kayu sede...