Selasa, 18 November 2025

Marie Antoinette

 


"Mahkota di Tengah Api"

Di dalam istana Versailles yang megah, Marie Antoinette menatap cermin. Mahkota di kepalanya berkilau, pakaian mewah menutupi tubuhnya, tapi hatinya terasa berat. Rakyat di luar gerbang berteriak menuntut keadilan, menuntut perubahan, dan menuntut suara mereka didengar.

“Apakah kemewahan ini layak jika di luar sana, rakyat menderita?” pikirnya diam-diam. Banyak yang melihatnya hanya sebagai simbol kemewahan, tanpa memahami kesepian dan tekanan yang ia rasakan sebagai seorang ratu muda di masa krisis.

Hari demi hari, Revolusi semakin membesar. Jalanan Paris penuh dengan kemarahan, dan istana yang dulu tampak tak tergoyahkan mulai terasa rapuh. Marie Antoinette menghadapi pilihan sulit: melawan arus sejarah atau mencoba bertahan dengan martabatnya sendiri.

Suatu malam, ketika api revolusi semakin dekat, ia menatap mahkotanya sekali lagi. Tidak ada kata-kata yang bisa menenangkan ketakutan dan kesedihan yang ia rasakan. Ia menyadari bahwa kekuasaan dan kemewahan tidak bisa menahan gelombang perubahan.

Di antara ketegangan dan kepanikan, Marie Antoinette tetap memegang diri dengan anggun. Mahkotanya mungkin akan jatuh, tapi ia membawa pelajaran tentang manusia, sejarah, dan konsekuensi dari ketidakadilan. Bahkan di saat kehancuran, ada keberanian yang lahir dari kesadaran akan dunia yang lebih adil.

0 komentar:

Posting Komentar

LEON TROTSKY

  Cerpen: “Bayang-Bayang Pena Trotsky” Di sebuah kamar kecil di pinggiran Mexico City tahun 1940, Leon Trotsky duduk di depan meja kayu sede...