Rabu, 19 November 2025

RAMSES II

 

“Di Bawah Mata Ra”

Matahari pagi menyinari Sungai Nil, memantul di permukaan air seperti emas cair. Di singgasana megahnya, Ramses II menatap kerajaan Mesir yang membentang dari gurun hingga oasis. Ia bukan hanya raja, tetapi hidup sebagai simbol kekuatan, keabadian, dan kemuliaan dewa-dewa Mesir.

“Baginda,” kata penasihatnya, “tentara Hittite berkumpul di perbatasan. Apa yang akan kita lakukan?”

Ramses menundukkan kepala, matanya memandang jauh ke horizon. “Kita akan melindungi Mesir,” jawabnya. “Tapi jangan lupa, seorang raja tidak hanya diukur dari pedang yang diayunkan, tetapi dari perdamaian yang ia pertahankan.”

Di malam hari, Ramses berdiri di balkon istana, menatap bintang yang berkelip di langit Mesir. Ia membayangkan pembangunan kuil-kuil yang megah, patung-patung yang akan bertahan ribuan tahun, dan sungai Nil yang terus memberi kehidupan bagi rakyatnya. “Kita hidup sekali,” bisiknya, “tetapi Mesir akan hidup selamanya.”

Dalam peperangan, ia menunggang kuda dengan keberanian seorang prajurit, memimpin pasukan menghadapi Hittite di Kadesh. Setiap langkahnya di medan perang diiringi doa kepada Ra, dewa matahari, yang memberi cahaya dan kekuatan. Tetapi di balik keberanian itu, Ramses juga menyadari bahwa tugas seorang firaun bukan hanya menaklukkan, tetapi menjaga rakyatnya dari kelaparan, bencana, dan ketidakadilan.

Ketika fajar menyingsing kembali, Ramses menatap Sungai Nil yang tenang. Ia tersenyum, sadar bahwa sejarah akan mengenangnya bukan hanya sebagai raja yang menaklukkan musuh, tetapi sebagai pelindung Mesir yang abadi. Dan di sanalah ia berdiri, di bawah mata Ra, dengan hati dan pedang yang sama-sama kuat, membimbing tanah Mesir menuju kejayaan yang tak lekang oleh waktu.



0 komentar:

Posting Komentar

LEON TROTSKY

  Cerpen: “Bayang-Bayang Pena Trotsky” Di sebuah kamar kecil di pinggiran Mexico City tahun 1940, Leon Trotsky duduk di depan meja kayu sede...