Selasa, 18 November 2025

OMAR KHAYYAM

 

Gelas dan Waktu

Di sebuah kota Persia yang damai, hiduplah seorang pemuda bernama Farid. Setiap hari, ia berjalan di pasar dan melihat orang-orang sibuk dengan urusan dunia, mengejar harta dan jabatan. Hatinya bertanya-tanya: “Apakah semua itu benar-benar membawa kebahagiaan?”

Suatu sore, Farid bertemu dengan seorang bijak tua yang dikenal sebagai Omar Khayyam. Ia duduk di tepi sungai, menulis di sebuah buku sambil menatap matahari yang perlahan tenggelam.

"Guru," tanya Farid, "orang-orang berlomba mengejar dunia, tapi aku merasa hidup ini begitu singkat. Apa arti semua ini?"

Omar tersenyum. "Hidup, anakku, seperti gelas yang kita pegang. Kita tidak bisa menahannya selamanya, dan tidak ada yang tahu kapan ia akan pecah. Maka nikmatilah setiap teguknya. Jangan terlalu terikat pada masa depan atau menyesali masa lalu. Kebahagiaan sejati ada saat kita bisa menghargai detik ini, sekarang, dengan kesadaran dan syukur."

Farid merenung. Ia mulai melihat hal-hal kecil yang sebelumnya luput dari perhatiannya: aroma teh hangat, suara anak-anak bermain, angin yang menyejukkan wajahnya. Perlahan, hatinya merasa damai.

Ketika malam tiba, Farid menatap bintang-bintang di langit Persia. Ia tersenyum, menyadari satu hal: hidup ini memang singkat, tapi setiap teguk waktu, setiap momen yang dihargai, bisa menjadi kebahagiaan yang abadi.

0 komentar:

Posting Komentar

LEON TROTSKY

  Cerpen: “Bayang-Bayang Pena Trotsky” Di sebuah kamar kecil di pinggiran Mexico City tahun 1940, Leon Trotsky duduk di depan meja kayu sede...