Sabtu, 22 November 2025

SITTING BULL

 

Api di Padang Rumput

(Cerpen tentang Sitting Bull)**


Angin pagi menyapu padang rumput yang luas, membawa aroma tanah basah dan bisikan masa lalu. Di kejauhan, matahari terbit bagaikan lingkaran api yang perlahan muncul dari balik bukit. Seekor elang berputar di langit, seakan mengawasi seluruh dataran. Di bawahnya, berdiri seorang lelaki dengan tatapan tajam dan penuh ketenangan: Tatanka Iyotake, atau yang lebih dikenal dunia sebagai Sitting Bull.


Hari itu, desa Lakota tengah bersiap untuk perpindahan musim. Tenda-tenda kulit kerbau bergoyang pelan diterpa angin. Anak-anak berlari di antara kuda-kuda, sementara para perempuan sibuk menggulung peralatan. Namun di tengah kesibukan itu, Sitting Bull tetap berdiri diam, mendengarkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh hati seorang pemimpin.


“Elang itu kembali mengitari kita,” gumamnya pelan. “Pertanda perubahan.”


Seorang pemuda bernama Wicasa, yang sejak kecil mengagumi keberanian Sitting Bull, mendekat.

“Apakah itu pertanda buruk, Paman?”


Sitting Bull tersenyum tipis. “Pertanda tidak selalu buruk. Tapi ia mengingatkan kita untuk waspada. Tanah ini selalu berbicara, Wicasa. Kita hanya perlu belajar mendengarnya.”


Pemuda itu mengangguk, meski belum sepenuhnya mengerti. Ia lalu mengikuti Sitting Bull berjalan menyusuri padang luas. Di samping mereka, rumput tinggi bergoyang seperti lautan hijau keemasan.


“Dulu,” ujar Sitting Bull, “ketika aku masih seumuranmu, aku bermimpi melihat rakyat kita hidup bebas seperti elang. Tapi kini, dunia telah berubah. Banyak orang datang dari jauh, membawa aturan yang bukan milik tanah ini.”


Wicasa menunduk. Ia tahu konflik dengan para pendatang semakin sering terjadi.

“Apakah kita harus melawan lagi?”


Sitting Bull berhenti. Matanya menatap cakrawala.


“Jika kebebasan kita terancam, kita harus berdiri. Tapi kita tidak lahir untuk membenci, Wicasa. Kita lahir untuk menjaga.”


Mereka lalu duduk di atas sebongkah batu, memandang kawanan kerbau yang berjalan perlahan di kejauhan—simbol kehidupan suku mereka.


“Tapi bagaimana cara mengetahui waktu yang tepat untuk berdiri, Paman?” tanya Wicasa.


Sitting Bull meraih sejumput tanah dan membiarkannya jatuh perlahan dari telapak tangannya.

“Dengan mendengar. Kepada tanah. Kepada angin. Kepada masa lalu. Dan kepada hatimu sendiri.”


Sejenak, hanya suara angin yang terdengar. Kemudian elang yang sejak tadi terbang berputar akhirnya meluncur turun, hinggap di puncak sebuah pohon mati—kokoh, meski telah kehilangan daunnya.


Sitting Bull tersenyum.

“Lihatlah, bahkan pohon tua itu masih tegak berdiri di tengah perubahan. Itulah yang harus kita lakukan.”


Wicasa memandang pemimpinnya dengan wajah baru—di sana ada kekaguman, tetapi kini juga pemahaman.


Saat matahari mulai naik tinggi, dua generasi itu berjalan kembali ke desa. Dalam hati Wicasa, tumbuh keyakinan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: bahwa menjadi kuat bukan hanya soal keberanian di medan perang, tetapi juga kebijaksanaan menjaga apa yang benar.


Pada hari itu, di padang rumput yang tak berujung, sebuah pelajaran diwariskan—dan legenda Sitting Bull terus hidup, mengalir bersama angin, seperti nyala api yang tak pernah padam.


0 komentar:

Posting Komentar

LEON TROTSKY

  Cerpen: “Bayang-Bayang Pena Trotsky” Di sebuah kamar kecil di pinggiran Mexico City tahun 1940, Leon Trotsky duduk di depan meja kayu sede...