Selasa, 18 November 2025

THOMAS HOBBES

 


"Negara dan Ketertiban"

Di ruang kerjanya yang remang-remang di London, Thomas menatap kertas penuh catatan dan sketsa teori. Ia memikirkan dunia yang kacau—perang, konflik, dan ketidakadilan yang merajalela. Dalam diam, ia bertanya: bagaimana manusia bisa hidup damai jika naluri egois dan konflik selalu muncul?

Banyak orang skeptis. “Filsafatmu terlalu pesimis. Manusia bisa mengatur dirinya sendiri,” kata beberapa kolega. Tapi Hobbes tidak gentar. Ia percaya bahwa untuk menciptakan ketertiban, diperlukan pemerintahan yang kuat dan aturan yang jelas—sebuah kontrak sosial yang mengikat semua orang.

Hari demi hari, ia menulis, merenungkan sejarah perang, hukum, dan perilaku manusia. Dari pengamatan itu lahirlah karyanya Leviathan, yang menjelaskan bahwa ketertiban dan perdamaian hanya bisa tercapai melalui kekuasaan pusat yang sah dan diterima bersama.

Suatu malam, menatap lilin yang redup, Hobbes tersenyum. Keberhasilan bukan hanya soal pengakuan intelektual, tetapi tentang memberi dunia cara memahami konflik, kekuasaan, dan kebutuhan manusia akan aturan untuk hidup bersama.

Di antara catatan dan pemikiran yang tak pernah habis, Hobbes menyadari bahwa manusia mungkin egois, tapi dengan pemahaman dan struktur yang tepat, dunia bisa diarahkan menuju ketertiban dan kedamaian yang langgeng.


0 komentar:

Posting Komentar

LEON TROTSKY

  Cerpen: “Bayang-Bayang Pena Trotsky” Di sebuah kamar kecil di pinggiran Mexico City tahun 1940, Leon Trotsky duduk di depan meja kayu sede...