Bom Bali berawal dari berkembangnya jaringan radikal di Asia Tenggara sejak akhir 1980-an, terutama setelah keterlibatan sejumlah warga Indonesia dalam Perang Afghanistan melawan Uni Soviet. Sekembalinya ke tanah air, sebagian dari mereka membawa ideologi ekstrem dan kemampuan militer yang kemudian membentuk jaringan Jemaah Islamiyah (JI). Pada akhir 1990-an, situasi Indonesia yang tengah dilanda konflik sosial dan ketidakstabilan politik pasca runtuhnya Orde Baru memberikan ruang bagi kelompok radikal tersebut untuk tumbuh, merekrut anggota, dan memperkuat struktur organisasi. JI juga memiliki hubungan dengan jaringan teror global seperti Al-Qaeda, sehingga menjadikan Indonesia—khususnya Bali—sebagai target strategis untuk menyerang kepentingan Barat. Bali dipilih karena merupakan pusat wisata internasional yang banyak dikunjungi warga negara asing, terutama dari negara yang dianggap musuh oleh kelompok teroris. Selain itu, lemahnya sistem keamanan dan belum adanya unit khusus antiteror membuat aktivitas mereka sulit terdeteksi. Ideologi anti-Barat serta keyakinan keliru mengenai jihad mendorong pelaku untuk melakukan serangan besar demi menarik perhatian dunia. Kombinasi faktor ideologis, politik, internasional, dan kelemahan keamanan inilah yang akhirnya melatarbelakangi terjadinya serangan Bom Bali.







0 komentar:
Posting Komentar